Sabtu, 22 April 2017

Ekonomi: perilaku konsumen

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perilaku konsumen adalah sebuah kegiatan yang berkaitan erat dengan proses pembelian suatu barang atau jasa. Mungkin Anda sedikit bingung, perilaku seperti apa yang dimaksud atau dikategorikan ke dalam perilaku konsumen. Melalui ulasan makalah berikut ini, akan dibahas secara menyeluruh mengenai perilaku konsumen. Mulai dari definisi, jenis, proses, hingga cara mengetahui masalah-masalah konsumen yang sering dihadapi ketika melakukan pembelian. Pada dasarnya cakupan mengenai perilaku konsumen ini sangat luas, mungkin Anda melakukan perilaku konsumen, namun tidak menyadarinya. Hal-hal seperti itu seringkali terjadi ketika melakukan proses pembelian.
Perilaku konsumen memiliki kepentingan khusus bagi orang karena berbagai alasan berhasrat mempengaruhi atau mengubah perilaku itu, termasuk mereka yang kepentingan utamanya adalah pemasaran, pendidikan, dan perlindungan konsumen, serta kebijakan umum.
Sebelum Perang Dunia II, banyak perusahaan, tetapi berorientasi pada produksi yang mencerminkan filosofi bahwa “produk yang baik akan menjual diri sendiri”. Namun persoalannya berubah sesudah perang, ketika banyak perusahaan mendapatkan bahwa mereka memiliki kapasitas yang lebih produktif daripada yang diserap pasar. Segera menjadi penting sekali untuk mengubah focus dari produksi ke pemasaran.
Elemen kunci dala definisi ini adalah pertukaran antara pelanggan dan penyuplai. Masing-masing pihak memberikan sesuatu yang bernilai kepada pihak lain dengan tujuan memenuhi kebutuhan mereka masing-masing. Dalam konteks pembelian yang normal, uang ditukar dengan barang atau jasa yang diinginkan.
Perhatikan bahwa pelanggan terletak pada inti dari proses tersebut. Semua yang dilakukan penyuplai dalam hal produk, harga, promosi dan distribusi diadaptasikan dengan permintaan pasar. Oleh karena itu pelanggan menjalankan pengaruh dominan pada semua yang dilakukan perusahaan. Tidak mengherankan bahwa studi perilaku konsumen memiliki akar utamanya di dalam bidang ekonomi, dan yang lebih baru, dalam bidang pemasaran.
Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Ketika memutuskan akan membeli suatu barang atau produk, tentu Anda sebagai konsumen selalu memikirkan terlebih dahulu barang yang akan Anda beli. Mulai dari harga, kualitas, fungsi atau kegunaan barang tersebut, dan lain sebagainya. Kegiatan memikirkan, mempertimbangkan, dan mempertanyakan barang sebelum membeli merupakan atau termasuk ke dalam perilaku konsumen. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perilaku konsumen sangat erat kaitannya dengan pembelian dan penjualan barang dan jasa. Tentu sebagai konsumen, Anda tidak ingin salah membeli suatu produk atau jasa, maka dari itu perilaku konsumen diperlukan. Untuk penjelasan lebih mendetail, mari kita simak ulasan berikut ini.

Tujuan
1.Untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-Dasar Ekonomi
2.Menambah pengetahuan tentang Perilaku Konsumen

Rumusan Masalah
Apa dan jelaskan perilaku konsumen itu ?






BAB II
ISI
Definisi Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang berkaitan erat dengan proses pembelian, pada saat itu konsumen melakukan aktifitas-aktifitas seperti melakukan pencarian, penelitian, dan pengevaluasian produk. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.
Yang termasuk ke dalam perilaku konsumen selain mengenai kualitas produk, juga meliputi harga produk atau jasa tersebut. Jika harga suatu produk tidak terlalu tinggi, maka konsumen tidak akan terlalu lama membutuhkan waktu untuk memikirkan dan melakukan aktifitas perilaku konsumen. Namun jika harga suatu barang atau jasa tersebut bisa dibilang tinggi, atau mahal, maka konsumen tersebut akan memberikan effort lebih terhadap barang tersebut. Pembeli tersebut akaan semakin lama melakukan perilaku konsumen, seperti melihat, menanyakan, mengevaluasi, dan mempertimbangkan.
Berikut adalah beberapa definisi perilaku konsumen menurut para ahli :
Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000) adalah “Consumer behavior can be defined as the behavior that customer display in searching for, purchasing, using, evaluating, and disposintog of products, services, and ideas they expect will satisfy they needs”. Pengertian tersebut berarti perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta (1993) adalah: “Consumer behavior may be defined as the decision process and physical activity individuals engage in when evaluating, acquiring, using, or disposing of goods and services”. Dapat dijelaskan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
     Pengertian perilaku konsumen menurut Engel et al. (1994 : 3) adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses yang mendahului dan menyusul dari tindakan ini.
Mowen (1990 : 5) mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah studi unit-unit dan proses pembuatan keputusan yang terlibat dalam menerima, menggunakan dan penentuan barang, jasa, dan ide. Difinisi tersebut menggunakan istilah unit-unit pembuat keputusan, karena keputusan bisa dibuat oleh individu atau kelompok. Difinisi tersebut juga mengatakan bahwa konsumsi adalah proses yang diawali dengan penerimaan, konsumsi, dan diakhiri dengan penentuan (disposition). Tahap penerimaan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen terhadap produk, tahap konsumsi menganalisa bagaimana konsumen senyatanya menggunakan produk yang diperoleh. Tahap penentuan menunjukkan apa yang dilakukan konsumen setelah selesai menggunakan produk tersebut.
Studi perilaku konsumen adalah studi bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber-sumber yang dimiliki pada konsumsi yang berkaitan dengan sesuatu (barang atau jasa).
 Schifman dan Kanuk (1991 : 5) mengatakan studi ini meliputi; apa yang dibeli, mengapa ia membelinya, dan berapa sering ia membelinya.
Swastha dan Handoko (1987 : 9) mendifinisikan perilaku konsumen sebagai tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang dan jasa ekonomisalnya, termasuk kegiatan pengambilan keputusan.
Menurut Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior dijelaskan sebagai: “the various facets of the decision of the decision process by which customers come to purchase and consume a product”. Dapat dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk yang dibeli dan dikonsumsi.



Jenis Perilaku Konsumen
Jenis-jenis perilaku konsumen ini sendiri berbeda-beda dan bermacam-macam. Misalkan Anda ingin membeli buah mangga, maka yang termasuk ke dalam perilaku konsumen sebelum membeli adalah mencium bau mangga tersebut untuk memastikan apakah sudah matang, kemudian meneliti dari bentuknya, apakah ada sisi yang busuk, menekan-nekan mangga tersebut juga untuk memastikan tingkat kematangan mangga tersebut, dan lain sebaginya. Hal ini juga dapat diterapkan pada pembelian produk jangka panjang, misalnya peralatan elektronik, gadget, alat-alat furniture, dan lain sebagainya.
Untuk produk jasa, misalkan jasa tour wisata, pasti Anda akan mengecek terlebih dahulu dari testimoni pembeli, track record perusahaan jasa travel itu sendiri, dan lain sebaginya. Pada intinya, setiap konsumen yang akan membeli suatu produk atau menggunakan sebuah jasa, maka konsumen tersebut pasti melakukan apa yang disebut sebagi perilaku konsumen.
Pada dasarnya, perilaku konsumen secara umum dibagi menjadi 2 yaitu perilaku konsumen yang bersifat rasional dan irrasional. Yang dimaksudkan dengan perilaku konsumen yang bersifat rasional adalah tindakan perilaku konsumen dalam pembelian suatu barang dan jasa yang mengedepankan aspek-aspek konsumen secara umum, yaitu seperti tingkat kebutuhan mendesak, kebutuhan utama/primer, serta daya guna produk itu sendiri terhadap konsumen pembelinya. Sedangkan perilaku konsumen yang bersifat irrasional adalah perilaku konsumen yang mudah terbujuk oleh iming-iming diskon atau marketing dari suatu produk tanpa mengedepankan aspek kebutuhan atau kepentingan. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa ciri-ciri yang menjadi dasar perbedaan antara perilaku konsumen yang bersifat rasional dan perilaku konsumen yang bersifat irrasional.
Perilaku Konsumen yang bersifat Rasional:
1. Konsumen memilih barang berdasarkan kebutuhan
2. Barang yang dipilih konsumen memberikan kegunaan optimal bagi konsumen
3. Konsumen memilih barang yang mutunya terjamin
4. Konsumen memilih barang yang harganya sesuai dengan kemampuan konsumen
Perilaku Konsumen yang bersifat Irrasional:
1. Konsumen sangat cepat tertarik dengan iklan dan promosi di media cetak maupun elektronik
2. Konsumen memilih barang-barang bermerk atau branded yang sudah dikenal luas
3. Konsumen memilih barang bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan gengsi atau prestise

Proses Pembentukan Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen dilakukan berdasarkan suatu proses sebelum dan sesudah seorang konsumen melakukan proses pembelian suatu barang maupun jasa. Dalam perilaku konsumen tersebut, seorang pembeli akan melakukan penilaian yang kemudian pada akhirnya akan mempengaruhi proses pengambilan keputusannya atas pembelian barang atau jasa tersebut. Berikut beberapa tahapan pengambilan keputusan seorang konsumen :
1. Pengenalan Masalah.
Biasanya seorang konsumen melakukan pembelian atas dasar kebutuhan atau untuk menyelesaikan keperluan, masalah dan kepentingan yang dihadapi. Jika tidak ada pengenalan masalah terlebih dahulu, maka konsumen juga tidak akan tahu produk mana yang harus dibeli.
2. Pencarian Informasi.
Setelah mengetahui permasalahan yang dialami, maka pada saat itu seorang konsumen akan aktif mencari tahu tentang bagaimana cara penyelesaian masalahnya tersebut. Dalam mencari sumber atau informasi, seseorang dapat melakukannya dari diri sendiri (internal) maupun dari orang lain (eksternal) seperti masukan, sharing pengalaman, dan lain sebagainya.
3. Mengevaluasi Alternatif.
Setelah konsumen mendapatkan berbagai macam informasi yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan, maka hal selanjutnya yang dilakukan oleh konsumen tersebut adalah mengevaluasi segala alternatif keputusan maupun informasi yang diperoleh.  Hal itu lah yang menjadi landasan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.
4. Keputusan Pembelian.
Proses selanjutnya setelah melakukan evaluasi pada alternatif-alternatif keputusan yang ada adalah konsumen tersebut akan melalui proses yang disebut dengan keputusan pembelian. Waktu yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan ini tidak sama, yaitu tergantung dari hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembelian atau pengambilan keputusan tersebut.
5. Evaluasi Pasca-Pembelian.
Proses lanjutan yang biasanya dilakukan seorang konsumen setelah melakukan proses dan keputusan pembelian adalah mengevaluasi pembeliannya tersebut. Evaluasi yang dilakukan mencakup pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti apakah barang tersebut sudah sesuai dengan harapan, sudah tepat guna, tidak mengecewakan, dan lain sebagainya. Hal ini akan menimbulkan sikap kepuasan dan ketidakpuasan barang oleh konsumen, mengecewakan dan tidak mengecewakan. Hal tersebut akan berdampak pada pengulangan pembelian barang atau tidak. Jika barang memuaskan dan tidak mengecewakan, maka konsumen akan mengingat merk produk tersebut sehingga akan terjadi pengulangan pembelian di masa mendatang.  Namun jika barang tidak memuasakan dan mengecewakan, maka konsumen juga akan mengingat merk barang tersebut dengan tujuan agar tidak mengulang kembali membeli barang tersebut di masa yang akan datang.

Cara Mengenali Perilaku Konsumen
Dalam disiplin ilmu ekonomi terdapat 3 pendekatan untuk mengenali perilaku konsumen, pendekatan-pendekatan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Pendekatan Interpretatif
Pendekatan ini adalah pendekatan yang membahas secara mendalam hal-hal mendasar mengenai perilaku konsumen. Dalam pendekatan ini menggunakan teknik observasi langsung yaitu menggunakan teknik wawancara yang dilakukan secara mendalam dan menyeluruh. Selain wawancara, pendekatan ini juga mengutamakan focus group discussion. Semua hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan kesimpulan mengenai makna suatu produk atau jasa bagi konsumen, serta perasaan yang dialami konsumen ketika membeli kemudian menggunakan produk maupun jasa tersebut.
2.      Pendekatan Tradisional yang didasari pada teori dan metode dari Ilmu Psikologi Kognitif, Sosial dan Behavioral serta Ilmu Sosiologi.
Pendekatan ini menggunakan studi lapangan berupa eksperimen yang didukung dengan survey dengan tujuan untuk menguji hipotesa penelitian yang berkaitan dengan teori. Kemudian dicari sebuah pemahaman mengenai proses seorang konsumen menganalisa beberapa informasi, membuat keputusan, dan pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen tersebut. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk mengembangkan teori dan metode yang relatif. Yang mana akan digunakan untuk menjelaskan perilaku konsumen serta pembuatan keputusan konsumen.
3.      Pendekatan Sains Pemasaran yang didasari pada teori dan metode dari Ilmu Ekonomi dan Statistika.
Penelitian dalam pendekatan ini menggunakan pengembangan teori dari Abraham Maslow yaitu Teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Teori tersebut berisi tentang hierarki kebutuhan manusia yang kemudian diuji coba dengan model Ilmu Matematika. Pendekatan ini dilakukan untuk memprediksi moving rate analysis atau pengaruh startegi marketing terhadap pilihan dan pola konsumsi.
Semua pendekatan yang dijelaskan diatas mempunyai nilai-nilai tertentu yang dapat memberikan pemahaman mengenai perilaku konsumen. Selain itu dapat pula diterapkan untuk strategi marketing jika dilihat dari tingkatan maupun sudut pandang analisis yang berbeda-beda. Ketiga pendekatan ini dapat digunakan oleh suatu pemilik bisnis atau perusahaan, baik dengan menggunakan salah satu dari pendekatan tersebut maupun dengan menggunakan ketiga pendekatan sekaligus. Semuanya tergantung dari jenis-jenis masalah yang dihadapi oleh masing-masing bisnis dan suatu perusahaan.


Tips Mengenali Perilaku Konsumen
Dalam perkuliahan Berburu Peluang Usaha di Ciputrauceo.com terdapat beberapa cara mudah untuk dapat mengidentifikasi perilaku konsumen. Pengenalan ini dapat dilakukan sebelum dan sesudah proses pembelian oleh konsumen. Empat cara ini juga sering dilakukan oleh para pelaku usaha di masa lalu yang kini terbukti telah sukses dalam mengenali perilaku konsumen. Berikut ini adalah cara-cara tersebut :
1.      Membaca Buku.
Membaca buku seringkali dilakukan untuk memperluas wawasan dan pengetahuan spesifik mengenai suatu hal. Usahakan Anda menjadi perpustakaan berjalan, yaitu seseorang yang mengetahui segala hal dan segala informasi terkait passion Anda.
2.      Menjelajahi Internet.
Internet akan semakin mempermudah seseorang untuk mendapatkan informasi. Semakin berkembang kemajuan teknologi juga akan semakin mempermudah seseorang untuk mendapatkan pengetahuan.
3.      Interaksi Langsung ke Konsumen
Tidak ada salahnya bertanya langsung kepada konsumen yang lain ketika melakukan proses pembelian, saling berkonsultasi dan mendapatkan masukan dari kedua belah pihak, baik dari penjual maupun pembeli yang lain.
4.      Berkomunikasi dan Memperkenalkan Diri
Pelaku pasar adalah penjual dan pembeli, maka dari itu biasanya seseorang yang akan melakukan pembelian akan lebih sering berkomunikasi, bertanya, dan aktif untuk mencari tahu.




Menilai Perilaku Konsumen di Masa Depan
Jika kebutuhan, persepsi, sikap, gaya hidup dan demografis berkaitan erat dengan perilaku konsumen, maka dengan mendasarkan pada hal itu, perilaku konsumen di masa depan bisa diprediksi. Dengan perkataan lain, mengetahui apa kebutuhan konsumen, bagaimana persepsi mereka terhadap merek produk, bagaimana sikap mereka terhadap merek produk yang ditawarkan dan berasal dari kelompok konsumen itu, maka tindakan atau perilaku konsumen di masa depan bisa diprediksi. Misalnya jika diketahui sekelompok orang dengan gaya hidup yang mewah dan berpendapatan tinggi dan suka warna-warna lembut untuk tampilan peralatan rumah tangganya (misalnya TV, sofa, dan lain-lain). Konsumen yanag mempunyai karakteristik seperti itu perilaku pembeliannya di masa depan bisa diprediksi. Misalnya konsumen itu akan membeli merek TV tertentu yang mempunyai tampilan gambar yang lembut, dan akan menghindari membeli TV yang tampilan gambarnya yang terang dan cerah.

Teknik Pendekatan Untuk Mempengaruhi Keputusan Konsumen
1.Teknik Pendekatan Stimulus Respon
Teknik ini merupakan teknik penyampaian ide atau pengetahuan tentang suatu produk dan merek kepada konsumen agar konsumen tertarik atau termotivasi untuk mengambil keputusan membeli produk yang disampaikan itu.
2. Teknik Pendekatan Humanistik
Teknik ini merupakan teknik yang bersifat manusiawi. Dalam teknik ini keputusan membeli sepenuhnya diserahkan kepada konsumen. Pemilik toko atau pramuniaga hanya bersifat menyediakan berbagai jenis produk, merek, warna, kualitas dan memberikan informasi tentang manfaat, kebaikan dan kelemahan yang terdapat pada masing-masing produk.
3. Teknik Pendekatan Kombinasi Antara Stimulus Respon dan Humanistik
Pemilik toko atau pramuniaga bersifat mengkondisikan perilaku yang memungkinkan konsumen termotivasi untuk membeli, namun keputusan membeli sepenuhnya diserahkan kepada konsumen. Misalnya barang-barang disusun dengan berbagai bentuk dan menarik, barang disusun secara teratur sesuai dengan masing-masing merek sehingga menarik perhatian konsumen untuk membeli.
4. Teknik Pendekatan Dengan Komunikasi Yang Persuasif
Teknik ini menggunakan rumus AIDDAS : A = Attention (perhatian), I = Interest (minat), D = Desire (hasrat), D = Decision (keputusan), A = Action (tindakan), dan S = Satisfaction (kepuasan).
Pertama perlu dibangkitkan perhatian konsumen terhadap produk agar timbul minatnya, kemudian kembangkan hasratnya untuk membeli produk tersebut. Setelah itu arahkan konsumen untuk mengambil keputusan membeli produk sesuai dengan kebutuhannya, dengan harapan konsumen merasa puas setelah membeli.
Sebelum menggunakan rumus AIDDAS, pemilik toko dan pramuniaga dapat menggunakan langkah sebagai berikut :
a.Berilah perhatian kepada konsumen dengan pendekatan komunikasi yang efektif dan menarik.
b.Pelajarilah terlebih dahulu kebutuhan, keinginan, perasaan, sifat, dan ciri khas kepribadian konsumen.
c.Dengarkan pendapat konsumen, dan kemudian berilah keyakinan mengenai manfaat produk yang telah menjadi perhatiannya.
d.Manfaatkan rumus AIDDAS dengan ekspresi muka yang meyakinkan.

Mengenali Masalah Konsumen
Sebagai produsen atau penjual barang dan jasa, maka Anda perlu mengetahui cara-cara mengenali masalah konsumen. Hal ini diperlukan agar masalah yang dialami oleh konsumen tersebut dapat Anda ubah menjadi sebuah peluang. Jika Anda dapat memperbaiki kekurangan penjualan atau mengetahui hal apa yang sering menjadi masalah konsumen, maka hal tersebut akan menjadi perbaikan bagi penjualan dan bisnis Anda. Berikut terdapat beberapa tips agar Anda dapat mengenali masalah konsumen :
1.      Jadilah Pelanggan
Anda harus melihat sisi dari seorang pelanggan, tidak selalu menjadi sisi seorang penjual. Misalkan Anda pergi ke pusat perbelanjaan, tentu secara otomatis Anda harus menempatkan diri sebagai konsumen. Nah, hal apa saja yang Anda temui di pusat perbelanjaan tersebut yang Anda anggap merupakan suatu kekurangan. Misalnya tentang pelayanan pegawai yang kurang tanggap atau kurang ramah, ketersediaan produk, kualitas produk, dan lain sebagainya. Dari situ Anda akan dapat mengetahui dan belajar tentang masalah-masalah yang sering dialami oleh konsumen.
2.      Amati Sekeliling Konsumen dan Kompetitor
Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah mengamati lingkungan dan keadaan di sekeliling konsumen maupun kompetitor bisnis Anda. Dengan mengamati bisnis yang hampir mirip atau serupa dengan bisnis Anda, maka Anda dapat melihat kekurangan-kekurangan yang mungkin dapat terjadi pada sektor bisnis tersebut. Sehingga Anda dapat dengan cepat melakukan tindakan pencegahan maupun perbaikan pada bisnis Anda.
3.      Menambah Kenalan dan Membuka Pemikiran
Menambah kenalan dan jaringan pertemanan adalah hal yang sangat positif bagi Anda dan bisnis Anda. Selain menambah relasi, partner kerja, juga dapat menambah networking atau jaringan bagi bisnis Anda. Dalam memulai perkenalan yang baru, usahakan untuk tidak mengatakan hal-hal yang negatif seperti menyinggung perasaan lawan bicara, berbicara sombong dan egois, mengatakan hal-hal yang menyangkut SARA, dan lain sebagainya. Pembicaraan dalam perkenalan baru hendaknya memiliki hal-hal yang positif seperti kalimat-kalimat yang mendukung dan tidak merendahkan lawan bicara.
4.      Bertanya Langsung Masalah yang Dihadapi oleh Pelanggan
Tidak ada salahnya bertanya kepada pelanggan lain tentang pandangannya mengenai bisnis Anda. Anda dapat memulai sebuah perkenalan dengan pelanggan yang lainnya dengan cara menanyakan hal-hal yang ringan terlebih dahulu, seperti sapaan, kalimat basa-basi, dan lain sebagainya. Kemudian Anda juga dapat meminta masukan atau pendapat mengenai bisnis yang Anda jalankan, sehingga Anda dapat mengetahui apa saja keluhan atau masalah yang sering dialami oleh para konsumen.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah kebudayaan, faktor sosial, pribadi, psikologis. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Faktor kebudayaan
Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari lembaga-lembaga penting lainnya.
b. Faktor sosial
Kelas sosial merupakan pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa.
c. Faktor pribadi
Faktor pribadi didefinisikan sebagai karakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan.
d. Faktor psikologis
Faktor psikologis sebagai bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh dimasa lampau atau antisipasinya pada waktu yang akan datang.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ke 4 faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumen, apabila salah satu faktor tersebut tidak ada pada diri konsumen maka dapat mempengaruhi perilaku konsumen pada kehidupan sehari-harinya.



Sedangkan menurut James F. Engel – Roger D Blackwell-Paul W. Miniart dalam saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu :
1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.

Karakteristik Pribadi Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
    Keputusan membeli dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur ulang, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
a.Umur dan Tahap Daur Ulang
    Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli semasa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabotan, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur .Pemasar seringkali menentukan sasaran pasar dalam bentuk tahap dan daur ulang dan mengembangkan produk yang sesuai serta rencana pemasaran untuk setiap tahap. Tahap daur ulang keluarga tradisional meliputi bujangan dan pasangan muda dengan anak. Akan tetapi dewasa ini pemasar semakin banyak melayani tahap alternatif non tradisional yang jumlahnya bertambah. Seperti pasangan yang tidak menikah, pasangan yang menikah di kemudian hari, pasangan tanpa anak, orang tua tunggal, orang tua dengan anak dewasa yang pulang lagi ke rumah, dan lain-lain.

b.Pekerjaan
    Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang akan dibelinya. Pekerjaan kasar cenderung membeli pakaian untuk bekerja, sedangkan pekerja kantor lebih banyak membeli jas dan dasi. Sebuah perusahaan melakukan spesialisasi dalam memasarkan produk menurut kelompok tertentu.
c.Situasi Ekonomi
    Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk. Seseorang dapat mempertimbangkan membeli suatu barang yang mahal bila dia mempunyai pendapatan yang cukup untuk dibelanjakan.
d.Kepribadian
    Secara lebih jelas, kepribadian adalah sebagai pola perilaku yang konsisten dan bertahan (enduring). Oleh karena itu variabel kepribadian lebih dalam dari pada gaya hidup. Kepribadian biasanya dijelaskan dengan ciri-ciri seperti kepercayaan diri, dominasi, otonomi, ketaatan, kemampuan bersosialisasi, daya tahan dan kemampuan beradaptasi. Kepribadian dapat menjadi variabel yang sangat berguna untuk menganalisa perilaku konsumen, asalkan jenis kepribadian tersebut dapat diklarifikasikan dengan akurat dan terdapat korelasi yang kuat antara jenis kepribadian tertentu dengan pilihan produk atau merek.








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang berkaitan erat dengan proses pembelian, pada saat itu konsumen melakukan aktifitas-aktifitas seperti melakukan pencarian, penelitian, dan pengevaluasian produk. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Terdapat dua jenis perilaku konsumen, perilaku konsumen yang bersifat rasional adalah tindakan perilaku konsumen dalam pembelian suatu barang dan jasa yang mengedepankan aspek-aspek konsumen secara umum, yaitu seperti tingkat kebutuhan mendesak, kebutuhan utama/primer, serta daya guna produk itu sendiri terhadap konsumen pembelinya. Sedangkan perilaku konsumen yang bersifat irrasional adalah perilaku konsumen yang mudah terbujuk oleh iming-iming diskon atau marketing dari suatu produk tanpa mengedepankan aspek kebutuhan atau kepentingan. Perilaku konsumen sangat menentukan suatu usaha seseorang, karena konsumen ini lah yang menentukan usaha seseorang. Jadi kita harus bisa meyakinkan kepada konsumen agar mereka mau membeli produk-produk yang kita jual.

Saran
Demikian makalah yang dapat kami uraikan , banyak pengetahuan yang dapat diambil dari makalah ini. Kami sadar dengan masih banyaknya kekurangan di makalah ini , jadi kami berharap para pembaca sekalian bisa memberikan kritik dan saran untuk lebih menyempurnakan makalah ini sehingga bisa menjadi acuan bagi kami untuk lebih menyempurnakan makalah ini. Saya ucapkan terima kasih.




Daftar Pustaka
Sutisna. 2003. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Setiadi, Nugroho J. 2003. Perilaku Konsumen Konsep dan Implikasi Untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Prenada Media.
Engel, James F, BlackWell Roger D, Miniard Paul W..1994.Perilaku
Konsumen.Jakarta: Binarupa Aksara.
http://www.ciputra-uceo.net/blog/2015/6/11/perilaku-konsumen
http://rahmidewi36.blogspot.co.id/2013/01/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html
https://hyomintara47.wordpress.com/2015/01/13/makalah-perilaku-konsumen/

Sejarah Asia Tenggara: Masuknya Perancis ke Kamboja

BAB I
PENDAHULUAN
Asia Tenggara merupakan suatu kawasan yang mempunyai banyak keragaman Dari mulai bahasa, adat istiadat, kebudayaan, ras, dan suku bangsa dan yang lainnya yang mencirikan keheterogenitasan asia tenggara. Hal inilah yang merupakan sumber perbedaan yang mencolok dalam wilayah-wilayah bagian asia tenggara. Berbedanya latar belakang, sejarah, dan keadaan fisik dari suatu daerah menyebabkan berbeda pula perkembangan yang di alami oleh suatu negara.
Dalam sejarah Asia Tenggara lama banyak hal yang akan di pelajari, yang menyangkut negara-negara di Asia Tenggara dari mulai adanya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara sampai pada sebelum pergerakan nasional bangsa-bangsa di asia tenggara.
Pada awal perkembangannya negara-negara di asia tenggara hampir semua mengalami masa kerajaan atau kekaisaran. Bharu setelah pengaruh dari luar masuk mulailah terdapat sisitem pemerintahan gaya pemerintahan barat. Penjelajahan-penjelajahan bangsa-bangsa barat ke wilayah asia tenggara mempunyai dampak yang sangat besar. Hal ini di buktikan dengan adanya kolonialisasi bangsa-bangsa barat (Eropa) terhadap wilayah-wilayah asia tenggara.

A. Latar Belakang Masalah
Di Asia Tenggara kita mengenal sebuah kawasan dengan sebutan Indo-China. Kawasan ini terdiri atas 3 Negara yaitu Laos, Kamboja, dan Vietnam. Ketiganya memiliki sejarah yang khas dalam perkembangannya yang turut mempengaruhi daerah sekitarnya. Seperti yang kita ketahui, Saigon terletak di Dalat (Vietnam) disini Jepang memusatkan pemerintahan untuk wilayah Asia Tenggara.
Diantara ketiga negara tersebut, kami mendapatkan Vietnam sebagai tugas yang harus diselesaikan sebagai THR (Tugas Hari Raya) di kampung, dengan thema yang kami tentukan sendiri.
Sebagai sebuah negara yang berada didalam kawasan Indocina, yang dijajah oleh Perancis. Namun setelah merdeka negara tersebut terpecah menjadi tiga negara, ini merupakan hal yang menarik.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana Kamboja sebelum masuknya Perancis?
Bagaimana masuknya Perancis ke Kamboja?


C. Tujuan
Ingin mengetahui Kamboja sebelum masuknya Perancis.
Ingin mengetahui masuknya Perancis ke Kamboja.





BAB II
PEMBAHASAN
A. Kamboja sebelum masuknya Perancis
Kerajaan-kerajaan di Kamboja
1. Kerajaan Funan
Funan adalah kerajaan yang berasal dari negara Kamboja bagian selatan. Funan berasal dari kata B’iunan (Krung Bnam) yang berarti raja gunung, yang mempunyai kemiripan  dengan Dinasti  Syailendra di  Jawa Tengah. Ibukotanya di Vyadhapura yang berarti kota dari para pemburu. Kota pelabuhannya adalah Oc Eo.
Awal Berdirinya Kerajaan Funan
            Kerajaan ini didirikan oleh seorang Brahmana yang bernama Kaundinya dari India. Ia kawin dengan putri setempat yang bernama Nagisoma (Naga). Ia mendirikan Funan pada tahun 75 M. Funan sebagai kerajaan maritim sehingga mata pencahariannya tergantung kekuasaannya di laut. Yang terpenting adalah menguasai jalan niaga antar China, India, dan ka Eropa. Jalan niaga laut manjadi ramai setelah Jalan Sutra mati karena gangguan orang-orang Nomad. Funan mempunyai angkatan laut yang kuat sekali, sehingga dengan angkatan lautnya ia membajak diperairan Asia Tenggara. Setiap orang yang berlayar tinggal memilih menyerah, mati, atau menjadi budak belian. Menyerah berarti berlabuh di funan, membayar bea cukai dan memenuhi segala permintaan pera pembesar.
            Lambat laun Funan memperluas daerahnya. Untuk itu selurah pantai daratan Asia Tanggara didirikan pangkalan dan benteng yang kuat. Funan menjadi sebuah iperium yang sangat kuat sejak didirikannya pangkalan laut dan benteng, dan sejak pertengahan Abad IV-V Funan menjadi sebuah Kerajaan yang menguasai perairan Asia Tenggara. Sementara itu perairan Indonesia yang dikuasai Funan dijadikan jalan lalu lintas rempah-rempah, binatang-binatang, kayu wangi (cendana), dan gading. Karena itu Funan dapat membinasahkan setiap kerajaan maritim yang akan berdiri didaerah peraiarannya. Akibatnya hanya daerah yang jauh dari jangkauan kerajaan Funan yang mampu bertahan sebagai kerajaan merdeka, seperti kerajaan Kutai dan Tarumanegara.
            Adapun raja-raja yang pernah berkuasa di Funan antara lain, Kaundinya, Fan Shih Man, Fan Sun, Kaundinya Jayavarman, dan Rudravarman. Kaundinya adalah pendiri Funan, dinastinya berkuasa selama satu setengah abad. Fan Shih Man adalah raja penakluk, memiliki banyak vassal, sehingga ia memerintah sebagai raja. Kekuasaannya sangat besar, ia membentuk angkatan laut yang menguasai perairan Asia Tenggara. Karena ia suka berperang akhirnya ia gugur sewaktu memimpin sebuah ekspedisi melawan kerajaan Chin Lin.
Pada masa pemerintahan raja Fan Sun, datang di istana Funan duta-duta dari China dan Marunda. Hubungan antara China dan Funan tetap erat sepanjang pemerintahannya hingga tahun 237 M. Pada tahun 268 dan 287 Funan mengirim utusan ke China.
Menurut Liang History salah seorang penganti Chandan adalah seorang Brahmana dari India yang bernama Kiao-chen-ju, yang karena secara gaib pergi dan memerintah Funan. Menurut cerita ia di terima baik oleh rakyat yang memilihnya menjadi raja mereka. Kemudian merubah semua aturan-aturan sesuai dengan metode-metode India. Nama nya diduga terjemahan cina dari nama “Kaundinya” dengan demikian cerita itu akan menunjukan pengembalian unsure Hindu didalam keluarga yang memerintah atas clan asli Funan, dibawah pemerintahannya pengaruh India cenderung menjadi lemah dengan adanya hubungan dengan kebudayan setempat. Tidak ada tahun yang ditunjukan bagi pemerinyahan Kaundinya kedua ini, tetapi salah seorang pengantinya yang namanya mungkin berarti Sreshthevarman dilapotkan telah mengirim utusan ke kaisar Wen (425-453). Early Sung History menyebutkan utusan-utusan berikut tahun 434, 435 dan 438 dan dikatakan raja ini menolak membantu Lin-yi menyerang Tongking/ (Tonkin).
Raja Funan yang terbesar adalah Kaundinya Jayavarman. Ia meninggal pada tahun 514 M. Tahun permulaan pemerintahannya tidak diketahui. Yang diangkat sebagai agama resmi adalah agama Siwa, tetapi disampingnya agama Budha tetap hidup dengan damai. Jayavarman sendiri tidak meninggalkan prasasti, tetapi permaisuri serta putranya yang bernama Gunavarman masinh-masing meninggalkan prasasti berbahasa Sanskerta. Kedua-duanya menunjukkan sifat Siwaistis, terdapat bekas telapak kaki pada prasasti tersebut.
Raja Funan yang terakhir Rudravarman. Sesungguhnya ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan, karena ia dilahirkan dari seorang selir. Ia berhasil menduduki tahkta kerajaan setelah membunuh calon raja yang sah (mungkin Gunavarman). Antara tahun 517 dan 539 ia mengirimkan sejumlah utusan ke China. Ia meninggal sekitar tahun 550 M. Bersama dengan meninggalnya Rudravarman, di daerah Mekong Tengah timbul pergolakan yang dipimpin oleh dua orang bersaudara yaitu Bhavavarman dan Citrasena, yang akhirnya berhasil menggulingkan kerajaan Funan.Kerajaan Funan tak mungkin dihancurkan oleh kerajaan maritime yang lain. Yang menghancurkan Funan adalah kerajaan darat atau pedalaman yaitu Chenla (Kamboja yang bersifat agraris).
Kondisi Sosial Masyarakat Kerajaan Funan
            Cerita ini ada dalam Southern Ch’i History yang  juga berisi catatan tentang kerajaan seperti zaman jayavarman. Ini sebuah gambaran tentang rakyat pengarung lautan, yang menyangkut barang dagangan dan rampasan dan senatiasa menjarah tetangga-tetangganya. Raja bersemayam di istana yang atapnya bertingkat-tingkat, sedang rumah rakyat dibangun atas onggokan dan atapnya dari daun bambu. Rakyat melindungi tempat tinggalnya dengan pagar kayu. Pakaian nasionalnya sepotong kain yang diikatkan di pinggang. Olahraga nasionalnya ialah sabungan ayam dan adu babi. Hukuman adalah berupa siksaan. Raja naik gajah dalam pemeriksaan umum.
             (Liang History) menambahkan bukan hanya raja tetapi seluruh keluarga raja sampai pada selir naik gajah. Dewa langit dipuja. Ini diwujudkan dalam patung tembaga: beberapa   yang dengan muka dua dan tangan empat, yang lain dengan empat wajah dan dengan delapan tangan jelas menujukan pemujaan harihara. Mayat diperlakukan dengan empat cara: dengan melemparkan ke arus sungai, membakarnya, mengubur dalam lubang parit, dan dengan menyajikannya pada burung-burung. Cerita ini juga menjukan adat mandi yang masih diketemukan di kamboja dan dikenal sebagai Trapeang,  penggunaan hak mandi umum bagi sejumlah keluarga.
Kondisi Ekonomi dan Politik Kerajaan Funan
Kerajaan Funan mengalami kemajuan pesat dalam bidang Ekonomi,  Kemajuan dalam bidang ekonomi tentunya dalam bidang pertanian dan perdagangan. Funan adalah Kerajaan Agraris yang memiliki pelabuhan sebagai pusat perdagangan dan militer di daratan Indocina. Bukti bahwa Ekonomi Kerajaan Funan mengalami kemajuan yang sangat pesat dapat dilihat dari perkembangan masyarakat Funan yang sebagian mengandalkan bidang pertanian dan perkebunan sebagai mata Pencaharian masyarakat Funan.
           Dalam bidang perdagangan Funan memiliki pelabuhan laut yang sangat kuat dan menjadi salah satu pusat perdagangan yang sangat strategis wilayah  Asia Tenggara dan daratan Indocina. Sehingga menjadi pusat perdagangan pada masa perundagian dan jalur Sutera menjadi salah satu aspek maju dan berkembangnya aktivitas perdagangan diwilayah Indocina dan Asia Tenggara. Komoditi yang terbesar dalam aktivitas perdagangan di Kerajaan Funan antara lain, Gerabah, Keramik, dan barang- barang dari perunggu, yang merupakan pengaruh dari Kebudayaan Dong Son di Vietnam, sehingga secara tidak langsung pengaruh Cina terhadap perkembangan Kerajaan Funan di Kamboja, menjadi pengaruh yang sangat penting dalam perkembangan Kerajaan Funan kedepannya.
Dalam bidang politik seperti yang digambarkan dalam Deskripsi singkat tentang Kerajaan Funan diatas, dijelaskan bahwa Kerajaan Funan memiliki sistem politik yang Feodal, dengan saling menguasai wilayah di Asia Tenggara dan dapat dikatakan bahwa Kerajaan Funan merupakan Kerajaan Adikuasa pada masa itu dengan menguasai seluruh wilayah perairan dan daratan Indocina. Dan Funan  pun memiliki angkatan laut yang sangat kuat sehingga menambah pertahanan Laut Kerajaan Funan semakin kuat di dalam menaklukan wilayah- wilayah yang berada di Asia Tenggara dan sekitarnya. Raja memiliki kekuasaan yang sangat mutlak (Absolut) di dalam menjalankan tata pemerintahan di Kerajaan Funan, sehingga raja sangat ditinggikan statusnya oleh masyarakat Kerajaan Funan, bahkan dapat dianggap sebagai titisan dewa yang sangat dimuliakan.  Sehingga dengan adanya tata pemerintahan dan pertahanan seperti diatas mustahil Funan sebagaiThe First Arest Power (Asia Tenggara Pranasionalisme :48), Funan dapat ditaklukan oleh Kerajaan- kerajaan lain yang terdapat dipesisir daerah Indocina dan Asia Tenggara, seperti Kerajaan Chenla dan Angkor. Tetapi setelah meninggalnya Raja Rudravarmanpada tahun 550 M, keadaan menjadi terbalik, timbul pergolakan di dalam tata pemerintahan Kerajaan Funan yang akhirnya dapat menggulingkan Funan dibawah penyerangan Kerajaan Chenla, yang menjadi salah satu Kerajaan yang dikuasai Funan pada waktu itu. Sehingga berakhirlah sudah kejayaan Kerajaan Funan sebagai Kerajaan The Man Power di wilayah Asia Tenggara, dan berganti dengan masa pemerintahan Kerajaan Chenla yang telah berhasil menaklukan Kerajaan Funan, sebagai Kerajaan Hindu Purba pertama di Asia Tenggara yang sangat kuat di dalam struktur pemerintahannya.
Proses Keruntuhan dan Kemunduran Kerajaan Funan
      Kerajaan Funan mengalami kemunduran pada akhir abad IV karena mendapat serangan dari tentara Kerajaan Chenla tepantya pada masa pemerintahan Raja Rudravarman (550 M) , dengan jatuhnya Kerajaan Funan ini, maka pada abad V terjadilah revolusi Kepercayaan di wilayah Asia Tenggara, yakni di daratan Asia Tenggara mengalami Absolutisme dewa raja yang berpusat pada pendewaan raja (dewa raja kultus). Dan Chenla sebagai penakluk yang berhasil menguasai Kerajaan Funan inilah yang membawa pengaruh kepercayaan ini sehingga secara tidak langsung mulailah berkembang kepercayaan Absolutisme dewa raja, walaupun pada saat pemerintahan Funan pengaruh ini sudah mulai diterapkan tetapi baru berkembang saat perpindahan kekuasaan dari Funan ke Kerajaan Chenla.

2. Kerajaan Chenla
         Chenla , yang dikenal sebagai Zhenla di Cina dan Lap Chan di Vietnam (yang merupakan Tiongkok-Vietnam pelafalan), adalah awal kerajaan Khmer. Chenla , yang dikenal Sebagai Zhenla di Cina dan Lap Chan di Vietnam (yang Merupakan Tiongkok-Vietnam pengucapan,adalah awal kerajaan khmer.
        Awalnya negara ini pengikut Funan, selama 60 tahun itu mencapai kemerdekaannya dan akhirnya menaklukkan semua Funan, menyerap orang-orangnya dan budaya. Melemahnya dari negara Funan saat ini sebagian besar dapat dijelaskan dengan peristiwa-peristiwa jauh: runtuhnya Kekaisaran Romawi dan kemudian rute perdagangan antara Laut Tengah dan Cina. Melemahnya dari negara Funan Sebagian besar saat ini dapat dijelaskan dengan peristiwa-peristiwa jauh: Runtuhnya Kekaisaran Romawi dan Kemudian rute perdagangan antara Laut Tengah dan Cina.
Runtuhnya kerajaan Chenla
         Pada 706, Chenla kemudian dibagi menjadi utara dan selatan negara, yang dikenal sebagai "Chenla dari Tanah" dan "Chenla Laut".  yang Champassak hari Laos modern pusat adalah bagian utara, sementara wilayah Mekong Delta dan milik pantai bagian selatan. Beberapa negara yang lebih kecil memisahkan diri dari Utara dan Selatan Chenla di 715, lebih lanjut melemahkan daerah.
Khmer, yang diyakini pengikut Funan telah mencapai Sungai Mekong dari Sungai Chao Phraya utara melalui Lembah Sungai Mun. Chenla, negara merdeka pertama mereka berkembang dari Funan, menyerap pengaruh Funanese. Catatan Cina kuno menyebutkan dua raja, Shrutavarman dan Shreshthavarman yang memerintah di ibu kota Shreshthapura modern terletak di selatan Laos. Pengaruh yang sangat besar identitas Kamboja yang datang adalah tempa oleh Kerajaan Khmer Bhavapura, di hari modern kota Kamboja Kompong Thom. Pengaruh. Warisannya adalah sultan yang paling penting, Ishanavarman yang sepenuhnya menaklukkan kerajaan Funan selama 612-628. Dia memilih ibukota barunya di Sambor Prei KUK, penamaan itu Ishanapura.
Setelah kematian Jayavarman di 681, kekacauan datang pada kerajaan dan di awal abad ke-8, kerajaan pecah menjadi beberapa kerajaan. Pushkaraksha, penguasa Shambhupura mengumumkan dirinya sebagai raja dari seluruh Kambuja. Kronik Cina Menyatakan Bahwa pada abad ke-8, Chenla terpecah menjadi Chenla tanah dan udara Chenla. Selama waktu ini, anak Shambhuvarman menguasai sebagian besar Pushkaraksha air Chenla hingga abad ke-8 yang didominasi Melayu dan Jawa selama bertahun-kerajaan Khmer.

3. Kerajaan Khmer di Kamboja sampai tahun 1001
Berdasarkan catatan orang-orang Cina, setelah kerajaan Funan runtuh pada pertengahan abad ke-6. Keruntuhan kerajaan Funan disebabkan karena adanya pemberontakan negara feodal yang  bernama Chen-la. Bhawawarman “Siwa Sebagai Pelindung”  memimpin pemberontakan melawan Funan, menjadi raja Chen-la melalui perkawinan dengan putri Lakhsmi dari Dinasti Kambhu-Mera.Ayahnya, Wirawarman yang disebut dalam prasasti sebagai tuan tanah di bawah Funan. Kakeknya  bernama Sarwa Bhauma. Perkawinannya memiliki arti penting dalam perkambangan tradisi kerajaanKhmer karena dipakai untuk menjelaskan bagaiamana raja-raja Kamboja menuntut untuk menempatkan keturunan mereka pada garis keturunan Bulan dan Matahari.Setelah kematian Rudrawarman pada tahun 550, Funan masih tetap mengirimkan utusan-utusan ke Cina. Hal ini menujukkan bahwa Bhawawarman tidak menyatukan Funan dengan negaranya, tetapi berotonomi sampai tahun 627 ketika dikoordinasikan dengan Chen-la saat dipimpin oleh Isanawarman.
Masa pemerintahan Bhawawarman menyebabkan kemakmuran. Kerajaan Funan membentang dari Champa di timur sampai ke Teluk Benggala di barat dan sebagian besar Semenanjung Melayu termasuk didalamnya. Setelah kematian Bhawawarman, pemertintahan digantikan oleh Chittrasena pada tahun 600 dengan bergelar Mahendrawarman “Indra yang Agung sebagai pelindung”. Namun masa pemerintahan beliau hanya singkat. Isnawarman, putra dari Mahendrawarman menggantikan ayahnya sebagai raja ada tahun 611. Isnawarman meluaskan kekuasaannya ke barat hingga sampai daerah yang kemudian menjadi pusat kerajaan Angkor.
Isnawarman telah menaklukkan negara merdeka yang berada di lembah Stung Treng lalu mendirikan ibukota baru disana yang kemudian disebut Isnpura. Isnawarman memerintah sampai tahun 635, namun di prasasti yang terakhir tercatat 628-629. Lalu digantikan olehBhuwawarman II yang  memerintah selama 40 tahun. Kemudian diganti olah raja Jayawarman I yang memiliki sebutan antara lain “Raja Singha yang Agung”dan “Jayawarman yang Jaya”. Jayawarman menaklukkan Laos Tengah dan Utara sampai perbatasan kerajaan Nanchao. Selama pemerintahan Jayawarman I, orang-orang Khmer cepat mengkonsolidasikan kekuatan mereka atas daerah rendah Mekong dan sekitar Tonle Sap. Pemerintahan diatur dengan baik. Namun setelah Jayawarman I meninggal, terjadi konflik perebutan kekuasaan antara Dinasti Bulan di Aninditapura di bawah raja Iswara dari keluarga Baladitya dan Dinasti Matahari dari Sambhupura. Kemudian yang naik tahta adalah seorang \putra Pushkaraksha yang mengawini putri pewaris tahta lalu bergelar Rajendrawarman I yang memerintah pada pertengahan ke dua abad VIII.
 Lalu setelah itu, ada raja Jayawarman II yang disebut sebagai pendiri kerajaan Angkor yang dipilih oleh menteri-menteri Mahipatiwarman sesuai perintah Maharaja Jawa. Beliau tidak termasuk keturunan Rajendrawarman I, dan beliau adalah cicit Nrepatidrawarman dari Aninditapura. Setelah raja Jayawarman II mangkat, puteranya yaitu Jayawarman III (850-877) yang terkenal sebagai  pemburu gajah, menggantikan ayahnya. Lalu Yasowarman I yang mendirikan kota Angkor, kemudian diteruskan oleh Jayawarman IV sampai alhir abad XII. Sejarah Khmer pada abad X berisi tentang catatan-catatan bangunan-bangunan. Hal ini menonjolkan mengenai masa peradabannya. Raja sebagai kepala negara memiliki kedudukan tertinggi dan banyak terlibat dalam upacara-upacara keagamaan namun memiliki hubungan yang terbatas sekali dengan rakyatnya. Raja menjadi  pengemban hukum dan ketertiban, pelindung agama, dan berkewajiban menjaga negaranya dari musuh-musuh luar. Orang-orang besar di kerajaan biasanya membangun tempat-tempat suci untuk  pemujaan pribadi mereka dan sebagai kuburannya ketika mereka mati. Praktek ini telah tersebar luas di seluruh Asia Tenggara. Ditemukan di Champa, Jawa, dan Bali.
Pada abad IX dan X, Siwaisme sangat berpengaruh. Manjelang abad XII, Waisnawisme cukup kuat dalam mengilhami bangunan- bangunan besar seperti Angkor Wat. Namun, Budhisme masih memiliki pengikut. Selama perjalanan abad X, enam raja memerintah. Diantara mereka, Jayawarman IV (928-942) merupakan seorang perebut tahta yang menaklukkan Yasodharapura (Angkor) lalu beliau mendirikan ibukota baru di Koh Ker. Rajendrawarman II (944-968) menurunkan tahta Jayawarman lalu mengembalikan ibukota ke Angkor yang kemudian tetap menjadi kota besar orang-orang Khmer sampai tahun 1432. Raja terakhir abad itu, Jayawarman V (968-1001) menyempurnakan dan mengabdikan sebuah candi Khmer yang indah yaitu Banteay Srei (Benteng Wanita) yang pertama direstorasi oleh arkeolog Perancis.

4. Kerajaan Angkor
Nama Angkor sudah banyak dikenal orang di luar Kamboja, tetapi bangunan dengan gugusan menara yang terkenal ini hanya bagian dari kompleks yang lebih besar. Candi Angkor Wat dibangun pada abad ke-12 sebagai salah satu candi dan kemungkinan istana, walaupun bangunan tersebut tidak lagi terlihat yang bertebaran di Kamboja barat laut. Selama lebih dari setengah millennium, dari 800 hingga abad ke-15, daerah ini merupakan titik pusat politik dan budaya kerajaan yang berkembang menjadi kerajaan Asia Tenggara terbesar pada masanya.
‘Angkor’ secara spesifik merujuk pada daerah di sekitar ibukota, tetapi biasanya juga digunakan untuk menyebutkan nama seluruh kerajaan Kamboja selama periode ini. Jika ada kerajaan pada periode klasik sejarah Kamboja yang bisa dicap sebagai imperium, anugerah itu sudah pasti jatuh pada Angkor. Dalam konteks luas wilayah dan eksistensinya, Angkor tidak tertandingi. Hanya sedikit sekali Negara penerus yang bisa menyamainya.
Walaupun periode ‘pra-Angkor’ dan ‘Angkor’ biasanya diperlakukan sebagai dua periode sejarah berbeda, kenyataannya terdapat kesinambungan antara keduanya. Pada 802 seorang penguasa yang dikenal sebagai Jayawarman II (bertakhta 802- ± 835) menggelar upacara di sebuah bukit bernama Phnom Kulen dan mentitahkan diri sebagai raja. Peristiwa ini lazim dianggap pendirian kerajaan Angkor. Padahal sebenarnya ini adalah puncak serangkaian peristiwa sebelumnya selain dimulainya fase baru dalam sejarah Kamboja. Abad ke-7 dan ke-8 menjadi saksi proses konsolidasi bertahap oleh para penguasa secara berturut-turut, bersamaan dengan pergeseran pusat kekuasaan secara progresif menjauh dari delta Mekong kearah danau besar yang dikenal sebagai Tonle Sap. Sepertinya, proses inilah yang diterjemahkan sumber-sumber Cina sebagai pembagian ‘Chenla’.
Naiknya Jayawarman II ke atas takhta tidak langsung membawa kedamaian atau stabilitas jangka panjang wilayah Khmer. Ia harus mencurahkan cukup banyak waktu di masa pemerintahannya untuk membangun analisis militer dan perkawinan untuk menkonsolidasikan kekuasaannya. Meskipun demikian, dekade-dekade pemerintahannya memang menjadi dasar bagi para penerusnya untuk membangun dan membuat daerah tersebut sebagai pusat kekuasaan penting hingga beberapa abad kemudian. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:59)
‘Angkor’ tidak pernah menjadi satu kota tunggal. Terjadi beberapa kali pemindahan ibukota di wilayah yang sama. Situs-situs ini pun secara keseluruhan menjadi ‘Angkor’. Kota yang khusus menjadi ibukota didirikan seorang penguasa bernama Yasowarman (bertakhta ±889-±910) dan diberi nama sesuai dengan namanya, Yosodharapura. Banyak penguasa Kamboja adalah generasi pembangunan; masing-masing memberi konstribusi berupa satu atau lebih bangunan yang menjadi warisan arsitektur Angkor. Banyak dari bangunan ini berupa candi yang didedikasikan untuk Siwa, Wisnu atau Buddha, tergantung pada siapa yang paling dimuliakan masing-masing penguasa dan keluarganya.  Banyak candi yang memasukkan relief keluarga kerajaan dan leluhur lainnya. Walaupun para cendikiawan masih berupaya mencari tau signifikansi relief-relief ini, tampak jelas bahwa ini merupakan semacam pemujaan leluhur kerajaan. Sebaliknya, meski sejak lama diyakini bahwa para penguasa Kamboja adalah ‘dewa-raja’ (didasarkan pada kemunculan istilah Sansekerta devaraja(dewaraja) dalam prasasti tertentu), asumsi ini sekarang diragukan. Para penguasa dalam banyak hal memang disucikan dan boleh jadi mengklaim mempunyai hubungan khusus dengan dewa, tetapi bukan berate mereka dipuja sebagai ‘dewa’. Jadi, mereka berbeda dengan Raja Jawa Hayam Wuruk yang disebut-sebut ‘Siwa-Buddha’ dan ‘dewa-para dewa’. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:59-60)
Angkor di Kamboja terbilang berumur panjang. Namun, kerajaan ini tidak selalu stabil. Epigrafi melimpah yang ditinggalkan para penguasanya selama berabad-abad mengandung gambaran yang jelas tentang perebutan kekuasaan yang sering terjadi. Diperkirakan, salah satu penyebabnya adalah prinsip hubungan keluarga bilateral: seorang penguasa menyetir para leluhurnya dari garis ayah dan ibu dari keluarganya untuk memperkuat legitimasinya. Resikonya, system ini melipat gandakan jumlah pengeklaim takhta dibandingkan dengan pola suksesi yang langsung dari ayah keputranya. Sulit memetakan sejarah Angkor dalam konteks dinasti, tidak seperti Vietnam dan suksesi kerajaan seperti telah bergerak dengan berbagai tujuan pada waktu yang berbeda-beda. Kadang pengklaim takhta bahkan berasal dari luar keluarga yang berkuasa. Beberapa silsilah kerajaan yang ditemukan pada prasasti tampak dibuat-buat, setidaknya pada bagian tertentu. Penguasa yang legistimasinya tidak jelas akan mencoba memperkuatnya melalui klaim memiliki hubungan darah dengan raja sebelumnya. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:60)
Ketidak puasan internal juga dapat dijelaskan menggunakan model mandala. Bukti sejarah mengungkapkan bahwa, seperti semua kerajaan Asia Tenggara lainnya, Angkor dipimpin penguasa kuat dan lemah secara bergantian. Beberapa raja yang kuat adalah Jayawarman II, Yasowarman, Suryawarman I (bertakhta 1002-1049), Suryawarman II (diperkirakan memerintah antara 1113 atau 1145 - ± 1150) dan Jayawarman VII (bartakhta 1181-± 1220). Dalam beberapa kasus, penguasa baru muncul dari masa kegelapan untuk mengembalikan stabilitas, menyatukan kembali wilayah yang terpecah belah, termasuk memperluas kerajaan. Setidaknya pada abad ke-11, bahkan mungkin sebelumnya, sudah ada keluarga-keluarga kuat yang memerintah berbagai daerah yang jauh dari ibukota. Kepentingan mereka harus diakomodasi atau mereka tidak akan lagi mau mengakui kewenangan penguasa, bahkan berupaya mendudukan seorang raja baru di takhta. Dominasi jangka panjang pusat politik (Angkor) tidak menjamin bahwa setiap penguasa yang memerintah disana mendapat dukungan dari semua bagian wilayahnya. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:60-61)
Walaupun kekuasaan sebagian didasarkan pada garis keturunan langsung (hubungan darah dan hubungan lainnya) dan sebagian besar berdasarkan garis spiritual (hubungan dengan kekuatan dewa), seiring berjalannya waktu Angkor berhasil mengembangkan birokrasi yang cukup besar. Tidak mudah mengurai fungsi-fungsi yang disangkutpautkan dengan berbagai gelar yang muncul dalam epigrafi karena seringkali memiliki konotasi religious. Meskipun demikian, jelas sudah ada posisi seperti menteri kerajaan. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:61)
Prasasti juga menjadi saksi adanya berbagai kategori pejabat herarki tingkat rendah. Para pejabat ini seringkali disebutkan dalam kaitannya dengan transaksi tanah, salah satu subyek prasasti yang paling penting. Sejarawan Michael Vickery mengamati bahwa selama dua abad pertama sejarah Angkor prasasti semacam itu biasanyya meminta kewenangan khusus raja. Namun, sejak pemerintahan Suryawarman I dan seterusnya pengesahan transaksi kerap dilakukan para pejabat, bukan penguasa. Ini menjadi bukti semakin pentingnya birokrasi selain dihubungkan dengan munculnya keluarga-keluarga kuat asal-muasal para pejabat ini. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:61-62).
Kamboja masa Angkor mencapai puncak kejayaannya pada pemerintahan Jayawarman VII yang secara umum dianggap sebagai raja terhebat dalam sejarah Negara ini. Prasasti-prasastinya dapat ditemukan di tempat-tempat yang jauh hingga mencapai ibukota Lao, Vientiane. Namun kewenangannya masi menjadi perdebatan. Tentu saja, mandala Angkor pada waktu itu mencangkup sebagian besar wilayah Thailand modern serta delta Mekong. Jayawarman VII adalah pembangun candi yang produktif, ia merupakan penganut Buddha Mahayana yang ta’at, dan bidang pekerjaan umum seperti jalan, stasiun peristirahatan dan rumah skit. Ironisnya, ia merupakan penguasa Angkor  terakhir dengan informasi melimpah seputar pemerintahannya. Setelah kematiannya, catatan sejarah sangat berkurang. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:62-63)
Mungkin berlebihan bila beranggapan kemunduran kerajaan Angkor dimulai sejak Jayawarman VII mangkat. Tetapi, tidak diragukan lagi bahwa luas wilayah kerajaan ini mulai berkurang setelah itu. Pada awal abad ke-13 para penutur Tai telah menetap di Thailand uatara dan memperluas wilayahnya ke selatan. Tidak jelas apakah ekspansi mereka secara langsung menjadi penyebab menyempitnya perbatasan Kamboja selama 1200-an atau sebaliknya, apakah melemahnya Angkor pada dasarnya disebabkan alasan internal dan akhirnya membuat wilayah perbatasannya mudah ditaklukkan para penutur Tai yang semakin kuat. Apa pun kejadian sebenarnya, abad ke-13 menjadi saksi pendirian muang Tai dengan luas wilayah beragam, mula-mula di luar batas mandala Angkor kemudian di dalam wilayah perbatasannya, kerajaan baru Sukhothai. Kemunculan dan ekspansi Ayutthaya di lembah Chao Phraya pada pertengahan abad ke-14 secara efektif menjadi sinyal berakhirnya Angkor sebagai kekuatan besar di daerah ini. (Ricklefs, Bruce, Albert, Maitrii, Thwin, 2013:63)
Sepeninggal Maharaja Jayavarman VII, Cambodia memasuki masa suram Angkor. Pada abad ke-14, beberapa kerajaan penganut Buddha yang berada dibawah kekuasaan Khmer memisahkan diri, salah satunya adalah kerajaan Champa. Di bagian Barat kerajaan Sukhothai kian sering melakukan pembrontakan dan berhasil menekan Khmer.
Di sisi lain, Raja penerus Jayavarman VIII merupakan pengikut Hindu, berhasil menggoyahkan kekuatan kerajaan dengan menghancurkan semua patung-patung Buddha dan mengembalikan semua Candi Buddha menjadi Candi Hindu kembali. Ancaman dari luar juga terjadi dari bangsa Mongol di bawah kendali Jenderal Kublai Khan yang terkenal tidak kenal ampun dalam memperluas daerah kekuasaan. Kehidupan rakyat di dalam kerajaan juga memburuk dengan semakin tidak terkontrolnya pengaturan pembagian air irigasi yang menyebabkan kegagalan panen, banjir yang kian sering terjadi.
Puncaknya terjadi ketika tentara Ayutthaya, dekat Bangkok sekarang, yang berhasil mengalahkan Sukhothai (Thailand tengah), kemudian menyerang ibukota Yasodharapura hingga ditinggalkan oleh sebagian besar penduduknya; dan Raja akhirnya harus memindahkan ibukota ke arah selatan, ke Oudong, dekat Phnom Penh sekarang. Sejak itu kisah Angkor menghilang dari pembicaraan sejarah dunia.


B. Masuknya Perancis ke Kamboja
Kamboja, di abad ke-18 tidak hanya mendapat penjajahan dari Barat seperti halnya negara-negara Asia Tenggara lain, namun juga negara-negara terdekatnya, yaitu Thailand dan Vietnam (Sternstein, t. t.). Hal ini dikarenakan, posisi Kamboja terjepit di antara dua negara tersebut sehingga invasi terus datang bergantian dari Thailand maupun Vietnam. Invasi Thailand dan Vietnam atas Kamboja yang berujung pada kemenangan Vietnam ini membuat Vietnam memperkuat kontrolnya dengan mencoba untuk membuat masyarakat Kamboja menjadi lebih beradab. Akan tetapi, usaha ini justru berakhir menjadi sebuah pemberontakan pada 1840-1841 sehingga hal ini menjadi celah bagi Thailand untuk kembali menginvasi Kamboja mengambil alih kekuasaan Vietnam.
Invasi Thailand dan Vietnam atas Kamboja ini mulai berakhir pada abad ke-19 ketika Prancis datang dan menawarkan bantuan perlindungan. Tawaran ini disambut baik oleh Raja Kamboja, yaitu Raja Norodom Prohmbarirak sehingga Kamboja resmi menjadi negara protektorat Prancis pada 11 Agustus 1862. Awalnya Prancis tidak hanya melindungi Kamboja namun juga berusaha untuk melakukan pembangunan ekonomi, transportasi, dan industri karet pada 1920-an. Namun rakyat Kamboja juga diharuskan untuk membayar pajak yang memberatkan sehingga karena kondisi yang tertekan ini nasionalisme di Kamboja mulai muncul. Pada 1941, Jepang turut hadir di Kamboja namun masih memperbolehkan kehadiran Prancis di Kamboja. Jepang juga menjanjikan kemerdekaan kepada Kamboja, sehingga melihat hal ini, Prancis pun berinisiati untuk memberi kebebasan bagi Kamboja untuk membuat partai politik dan konstitusi dan pada 1949, Kamboja berhasil menjadi negara semi-independen (Lambert, t.t.). Lambert, Tim. t.t.  “A Short History of Cambodia” [Online], dalam  http://www.localhistories.org/cambodia.html, diakses pada 27 Maret 2016.
Disaat Kamboja mendapatkan tekanan-tekanan dari kerajaan Siam sebelah barat dan kerajaan Annam di timur, maka Raja Kamboja Norodom minta bantuan pada Prancis. Akibatnya dengan kemenangan Kamboja dibantu oleh Prancis menjadikan Kamboja sebagai daerah Protektorat Prancis tahun 1863. Tahun 1884 Norondom dipaksa menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan kepada Prancis dan pemerintahan dalam negeri seluruhya berada di tangan Prancis dan Kamboja pun menjadi daerah koloni Prancis dan Kamboja ditelantarkan oleh Prancis karena ada Daerah lain yang subur dan kaya yakni Viaetnam. Tidak ada pembangunan industri dan pertanian dibiarkan seperti semula.
Namun sebuah angin perubahan pun mulai terbawa ketika di tahun 1863 seorang Raja Kamboja yakni Raja Norodom. Raja Norodom ialah raja nan dilantik oleh Raja Thai. Dia memiliki sebuah siasat jitu dengan mencari konservasi ke negara Perancis.
Di tahun 1867, Raja Norodom menandatangi sebuah perjanjian dengan pemerintah Perancis nan isinya memberikan hak kontrol terhadap dua wilayah nan waktu itu dikuasai oleh Thai yakni Battambang dan Siem Reap. Namun pada akhirnya kedua wilayah ini diberikan kepada Kamboja oleh Perancis di tahun 1906 pada sebuah perjanjian perbatasan antara Perancis dan Thai. Kondisi tersebut tentunya menguntungkan bagi pihak Kamboja sebab selama 1863 hingga pada tahun 1953, Kamboja dijadikan sebagai wilayah protectorat nan dilindungi oleh Perancis nan dianggap sebagai daerah koloni Indonchina.

Kamboja diperintah dari Hanoi sebagai bagian dari Perancis Indo-China dari 1864 sampai tahun 1953 ketika Raja Norodom Sihanouk, yang telah ditempatkan pada takhta oleh Perancis pada tahun 1941, kemerdekaan penuh dicapai. Ia memerintah Kamboja sampai tahun 1970, ketika Marsekal Lon Nol digulingkan dia dalam kudeta.
Perancis yang menjadikan negara Kamboja sebagai wilayah protektoratnya sejak 1863, mengangkat Sihanouk sebagai Raja pada tahun 1951 dan memberikan kemerdekaan kepada Kamboja pada 9 November 1953. Sihanouk kemudian memproklamirkan Kamboja sebagai negara yang netral dan berusaha tidak terlibat dalam Perang Vietnam. Periode 1970 – 1993, Kamboja memasuki masa perang saudara yang menghancurkan infrastruktur fisik dan kapasitas sumber daya manusia. Masa ini juga ditandai dengan berkuasanya rezim Khmer Merah serta menjadikan Kamboja sebagai perebutan pengaruh kekuatan negara asing sebagai akibat dari perang dingin.
Raja Norodom dari Kamboja yang naik tahta tahun 1860, pada tahun 1861 mangalami kesulitan karena saudaranya yang bernama Si Votha memberontak dan memaksanya mengungsi ke Battambang. Selama beberapa tahun Kamboja bertahan dari Muangthai dan Vietnam. Raja mencoba mempertahankan kemerdekaan dengan cara membayar upeti pada kedua belah pihak.
 Raja yang mengungsi mencoba pergi ke Bangkok untuk mencari bantuan senjata dan mendapatkan kembali mahkotanya. Permintaan tersebut didukung oleh Mgr.Miche, Vicar Apostolik Kamboja, yang kemudian menulis pada konsul Perancis di Bangkok untuk mendekati Muangthai. Bulan Maret 1862 pemerintah mengirim kembali Norodom ke Kampot dengan sebuah kapal api uap untuk memasuki ibu kota. Bagi perancis tujuan mereka adalah meneruskan peran sebagai "Protektor" Kamboja. Sebuah kapal bersenjata perancis yang dikirim oleh Admiral Charner ke Phnom Penh untuk melindungi misionnaris Perancis membuat kebingunan para pemberontak.
Charner tertarik pada keadaan Kamboja sejak awal bulan Maret 1861, saat Charner mengutus perwiranya untuk memberitahukan pada Norodom bahwa Perancis akan membantu mempertahankan kemerdekaan Kamboja. Namun Raja mengatakan pada utuan itu akan menyerahkan semua kelanjutan kerajaan pada Muangthai yang telah menyelamatkan dari penguasaan Vietnam.
Bulan September 1862 Bonard mengunjungi Norodom dan menganjurkan untuk menakhukkan Cochin China, Perancis beranggapan bahwa Negara itu sekarang mempunyai hak atas upeti yang sebelumnya dibayar pada Hue. Bulan April 1863 Bonard mengambil keputusan untuk penegakan pengaruh perancis dengan mengirimkan seorang letnan angkatan laut, Doudart de Lagree sebagai seorang Residen. Bonard menyuruh melakukan survey geografis negri itu dan menjalin hubungan dengan Raja. Saat kembali Residen melaporkan bahwa raja Muangthai lebih berkuasa di Oudong daripada raja Kamboja.Berita ini membuat Lagrandiere memberi waktu pada
Muangthai untuk memperkuat kekuasaanya di Kamboja. Pada bulan Juli 1863 Lagrandiere melakukan kunjungan pribadi ke Oudong dan menawarkan bantuan dalam menjaga kemerdekaan dari Muangthai. Awalnya Raja ragu, namun karena kaeadaan masih berbahaya Raja menerima tawaran tersebut. Raja juga takut kalau-kalau agitator po Kombo, yang telah menyulitkan Perancis diperbatasan akan merebut tahtanya. Babak Kedua Expansi Perancis di Indochina, 1870-1900.
Pada tahun 1863, Raja Norodom, yang dilantik oleh Thai, mencari perlindungan kepada Perancis. Pada tahun 1867, Raja Norodom menandatangani perjanjian dengan pihak Perancis yang isinya memberikan hak kontrol provinsi Battambang dan Siem Reap yang menjadi bagian Thai. Akhirnya, kedua daerah ini diberikan pada Kamboja pada tahun 1906 pada perjanjian perbatasan oleh Perancis dan Thai.
Kamboja dijadikan daerah Protektorat oleh Perancis dari tahun 1863 sampai dengan 1953, sebagai daerah dari Koloni Indochina. Setelah penjajahan Jepang pada 1940-an, akhirnya Kamboja meraih kemerdekaannya dari Perancis pada 9 November 1995. Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional di bawah kepemimpinan Raja Norodom Sihanouk.
Kamboja pernah menjadi Daerah Perlindungan Perancis (jajahan Perancis) sejak tahun 1863 sampai negeri ini memperoleh kemerdekaan pada tahun 1953.
Kamboja pernah menjadi negara boneka. Dibentuk sebagai Free State tanggal 7 Januari 1946 dibawah Raja Norodom Sihanouk, dengan paksaan tentara Perancis yang menyeburnya dan memaksakan perjanjian Koamboja-Perancis  yang menetapkan Kamboja menjadi negara dibawah naungan Perancis. Dibawah kemajuan tentara Ho Chi Minh (1953) kerajaan Kamboja menuntut kemerdekaan penuh dari Perancis, hingga merupakan ancaman bagi Perancis.


1. Partai Komunis Kamboja menuju Democratic
Antara abad ke 9 hingga 14, orang Khmer di Kamboja pernah memiliki Kerajaan besar Angkor yang wilayahnya mencakup Vietnam, Laos, Thailand hingga Myanmar sekarang ini. Ibukota kerajaan itu, Angkor, berpopulasi 1 juta jiwa (pada saat yang sama, Paris yang merupakan salah satu kota terbesar di Eropa hanya dihuni sekitar 30 ribu jiwa). Di dalam Angkor, kerajaan Hindu itu membangun kompleks peribadatan seluas 75 km2 (terbesar di dunia hingga saat ini). Lebih dari 1000 candi Hindu dibangun, yang satu sama lain terhubung dalam jaringan dam dan kanal yang airnya ditampung dari perbukitan sekitarnya. Abad-abad kemudian, pengaruh mereka menyusut dan perlahan mengadopsi Buddhisme. Mereka jatuh dalam pengaruh Buddhisme Siam (Thailand) dan kemudian di bawah Konfusionisme Dai Nam (Vietnam). Pada suatu masa, Kerajaan Khmer (pewaris kerajaan Angkor) pernah hampir dikuasai seluruhnya oleh Vietnam sehingga menimbulkan rivalitas mendalam antara Kamboja  dan Vietnam hingga abad ke 21. Pada pertengahan abad ke 19, kerajaan Khmer menerima perlindungan dari Prancis untuk menghadapi Siam dan Dai Nam. Sejak saat itu (1863), Kamboja menjadi wilayah Protektorat atau negara bawahan Prancis. Kemudian, menyusul Laos dan Vietnam dikuasai Prancis dan dijadikan wilayah Indocina Prancis.
Pada perkembangannya, Prancis fokus pada Vietnam dan meninggalkan Kamboja tanpa banyak perubahan. Prancis memajukan pertanian di Vietnam hingga terbentuk petani-petani kaya, mengenalkan industri, memajukan dunia pendidikan serta menciptakan banyak kaum profesional dan intelektual. Hal yang sama tidak terjadi di Kamboja yang tetap tertinggal. Untuk membantu jalannya administrasi pemerintahan di Kamboja, Prancis lantas memasukkan banyak sekali orang Vietnam terdidik dan juga memasukkan pekerja Vietnam untuk menangani pertanian dan perkebunan. Padahal, Orang Vietnam merupakan rival tradisional orang Khmer. Prancis juga memasukkan banyak Orang Cina untuk mengurus perdagangan, yang dengan cepat menjadi etnik minoritas terbesar di Kamboja .
Orang-orang Khmer (orang Kamboja asli) terbelah dalam dua pandangan berbeda. Sebagian kalangan melihat bahwa bantuan Prancis akan memulihkan lagi kejayaan mereka di masa lalu, sedangkan sebagian lagi beranggapan kalau mereka berada di era kepunahan di tangan orang-orang Vietnam, yang telah menjadi rival mereka sejak lama. Mereka cemas dengan keberadaan orang-orang Vietnam di Kamboja terus menerus membesar dan mengisi jabatan-jabatan penting dalam birokrasi di Kamboja. Mereka melihat bahwa Kamboja mulai dikuasai orang Vietnam. Pada saat yang sama, etnik Cina juga terus membesar dan menguasai perdagangan. Mayoritas penghuni ibukota Pnom Penh pada tahun 1940-an adalah orang Cina dan Vietnam.
Antara tahun 1941 sampai 1945, dalam konteks Perang Dunia II, Kamboja dikuasai Jepang. Setelah kalah perang, ¬Jepang mengembalikannya lagi ke tangan Perancis. Tapi kondisi sudah tidak sama lagi seperti sebelumnya. Perang Dunia II memicu kebangkitan nasionalisme di Negara-negara dunia ketiga, termasuk di Kamboja. Kaum Nasionalis Kamboja tidak menerima kembalinya Prancis dengan lapang. Mereka menuntut kemerdekaan. Sebelumnya, kaum nasionalis Vietnam telah berhasil memaksa Prancis keluar dari Vietnam, dan mengubah Vietnam menjadi Negara komunis. Berbeda dengan di Vietnam, tuntutan kemerdekaan di Kamboja berlangsung damai. Pihak kerajaan dan para birokrat Kamboja meminta penyerahan kekuasaan dari Prancis ke tangan mereka tanpa melalui jalur kekerasan. Akan tetapi di sisi lain, kaum muda Kamboja yang dipengaruhi komunis menginginkan revolusi total, bukan jalur damai. Mereka, kaum muda itu, diorganisir oleh kelompok intelektual muda didikan Prancis, yang saat di Prancis bergabung ke dalam Partai Komunis Prancis.  Ketika kembali ke tanah air, mereka mendirikan Partai Komunis Kamboja. Tujuannya untuk mengusir Prancis sekaligus menurunkan tahta Raja Norodom Sihanouk.
Pada tahun 1953, Prancis keluar sepenuhnya dari Kamboja dengan menyerahkan kekuasaan pada Kerajaan Kamboja merdeka di bawah raja Pangeran Norodom Sihanouk. Sang Rajapun menjadi penguasa negara sepenuhnya. Dengan demikian, Kamboja kembali ke era sebelum kedatangan Prancis, yakni Kamboja berbentuk kerajaan yang merdeka. Kaum muda Kamboja yang dipengaruhi komunis tidak puas dengan keadaan tersebut. Mereka ingin melenyapkan bentuk pemerintahan kerajaan. Oleh karena itu aksi-aksi revolusioner dijalankan. Respons Pangeran Norodom Sihanouk terhadap aksi-aksi itu sangat keras. Partai Komunis Kamboja yang berhasil meraih suara cukup besar dalam Pemilu, sehingga merupakan salah satu partai mayoritas di parlemen, dibekukan. Seluruh aktivitas partai itu dilarang. Parlemen pun dibubarkan. Kaum komunis lantas mundur ke hutan-hutan dan sebagian bergabung dengan Komunis Vietnam. Rejim Sihanouk bertahan sampai tahun 1970. Sebuah kudeta militer yang dipimpin oleh Lon Nol mengakhiri kekuasaannya. Lon Nol kemudian mendirikan Republik Khmer.
Perlahan namun pasti, Partai Komunis Kamboja yang dipimpin oleh Saloth Sar atau lebih dikenal sebagai Pol Pot (Saudara Nomor Satu) dan Nuon Chea mendapatkan pengikut kembali. Salah satu lumbung utama pengikut mereka adalah wilayah perbatasan Kamboja-Vietnam, yang sejak tahun 1965 menjadi medan tempur antara Amerika Serikat dan Vietnam. Pertempuran di wilayah Kamboja terjadi karena banyak tentara Vietnam yang masuk ke wilayah Kamboja. Pengeboman besar-besaranpun berlangsung di wilayah perbatasan. Akibatnya katastropik: kehancuran terjadi di mana-mana di wilayah perbatasan. Dicekam takut dan kekuatiran, banyak orang tua yang kemudian menyerahkan anak-anak muda mereka ke kelompok komunis.
Rejim Lon Nol yang dipenuhi korupsi dan kondisi ekonomi yang memburuk membuat banyak rakyat Kamboja mulai berpaling pada Partai Komunis. Popularitas Partai Komunis pun meluas. Kekuatannya bertambah pesat. Sebagai rejim anti komunis, Republik Khmer berusaha menghancurkan mereka. Dengan bantuan pihak Amerika Serikat, Republik Khmer berhasil memaksa pihak komunis hanya mencapai perkembangan lambat dan cenderung stagnan. Akan tetapi ketika pihak Kongres Amerika menemukan fakta adanya pengeboman di wilayah Kamboja, merekam bentuk bantuan ke Republik Khmer. Akibatnya Republik Khmer sendirian menghadapi komunis. Saat pihak komunis yang menyebut diri mereka Khmer Merah (Khmer Rogue) menyerang Pnom Penh dengan kekuatan penuh, Republik Khmer pun tak berdaya. Akhirnya, pada tanggal 17 April 1975, Khmer Merah berhasil sepenuhnya menduduki ibu kota Pnom Penh dan menguasai Kamboja. Mereka memaklumkan Negara baru yang bernama Democratic Kampuchea.
2. Muslim Kamboja Pada Masa Jajahan Perancis
Awal abad 19 atau sekitar tahun 1864 sebelum Kamboja dikuasai oleh Khemr Merah terlebih dahulu Perancis telah bercokol  Kamboja. Munculnya Perancis di Kamboja membawa kestabilan politik di negeri ini. Perancis menjadikan Kamboja sebagai negara Protektorat hingga tahun 1970.
Namun dalam beberapa sumber tidak banyak dijelaskan bagaimana hubungan umat muslim Kamboja dengan Perancis. Namun artikel yang ditulis oleh Muhamad Zain Musa memuat sedikit mengenai hubungan Perancis dengan umat Islam di Kamboja. Dijelaskan bahwa Perancis bersikap toleran, terhadap kedua agama yang berkembang di Kamboja, yakni Buddha dan Islam.
Bahwa dikatakan umat Islam, Buddha dan Perancis hubungan baik bagai simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Keberadaan agama di Kamboja tidak di usik oleh Perancis, bahkan Perancis merangkul dan mempersatukan agama-agama yang sebelumnya telah berkembang di Kamboja.
















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Asia Tenggara merupakan suatu kawasan yang mempunyai banyak keragaman Dari mulai bahasa, adat istiadat, kebudayaan, ras, dan suku bangsa dan yang lainnya yang mencirikan keheterogenitasan asia tenggara. Hal inilah yang merupakan sumber perbedaan yang mencolok dalam wilayah-wilayah bagian asia tenggara. Berbedanya latar belakang, sejarah, dan keadaan fisik dari suatu daerah menyebabkan berbeda pula perkembangan yang di alami oleh suatu negara.
Kerajaan-kerajaan di Kamboja
1. Kerajaan Funan
2. Kerajaan Chenla
3. Kerajaan Khmer di Kamboja sampai tahun 1001
4. Kerajaan Angkor
Masuknya Perancis ke Kamboja
Kamboja, di abad ke-18 tidak hanya mendapat penjajahan dari Barat seperti halnya negara-negara Asia Tenggara lain, namun juga negara-negara terdekatnya, yaitu Thailand dan Vietnam (Sternstein, t. t.). Hal ini dikarenakan, posisi Kamboja terjepit di antara dua negara tersebut sehingga invasi terus datang bergantian dari Thailand maupun Vietnam. Invasi Thailand dan Vietnam atas Kamboja yang berujung pada kemenangan Vietnam ini membuat Vietnam memperkuat kontrolnya dengan mencoba untuk membuat masyarakat Kamboja menjadi lebih beradab. Akan tetapi, usaha ini justru berakhir menjadi sebuah pemberontakan pada 1840-1841 sehingga hal ini menjadi celah bagi Thailand untuk kembali menginvasi Kamboja mengambil alih kekuasaan Vietnam.
1. Partai Komunis Kamboja menuju Democratic
Rejim Lon Nol yang dipenuhi korupsi dan kondisi ekonomi yang memburuk membuat banyak rakyat Kamboja mulai berpaling pada Partai Komunis. Popularitas Partai Komunis pun meluas. Kekuatannya bertambah pesat. Sebagai rejim anti komunis, Republik Khmer berusaha menghancurkan mereka. Dengan bantuan pihak Amerika Serikat, Republik Khmer berhasil memaksa pihak komunis hanya mencapai perkembangan lambat dan cenderung stagnan. Akan tetapi ketika pihak Kongres Amerika menemukan fakta adanya pengeboman di wilayah Kamboja, merekam bentuk bantuan ke Republik Khmer. Akibatnya Republik Khmer sendirian menghadapi komunis. Saat pihak komunis yang menyebut diri mereka Khmer Merah (Khmer Rogue) menyerang Pnom Penh dengan kekuatan penuh, Republik Khmer pun tak berdaya. Akhirnya, pada tanggal 17 April 1975, Khmer Merah berhasil sepenuhnya menduduki ibu kota Pnom Penh dan menguasai Kamboja. Mereka memaklumkan Negara baru yang bernama Democratic Kampuchea.
2. Muslim Kamboja Pada Masa Jajahan Perancis
Bahwa dikatakan umat Islam, Buddha dan Perancis hubungan baik bagai simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Keberadaan agama di Kamboja tidak di usik oleh Perancis, bahkan Perancis merangkul dan mempersatukan agama-agama yang sebelumnya telah berkembang di Kamboja.





Daftar Pustaka

http://achmantomendatu.blogspot.co.id/2014/08/genosida-kamboja.html?m=1
http://agoenghistorika.blogspot.co.id/2013/04/indo-china-zaman-kuna-hingga-merdeka.html?m=1
http://arief-history.blogspot.co.id/2011/06/sejarah-asia-tenggara.html?m=1
http://blog-chiex.blogspot.co.id/2011/08/kedatangan-bangsa-barat-ke-asia.html?m=1
https://books.google.co.id/books?id=ABMaDAAAQBAJ&pg=PA83&dq=perancis+di+kamboja&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwixstKCvo_TAhXEOo8KHUSkB_A4FBDoAQg5MAc#v=onepage&q=perancis%20di%20kamboja&f=false
https://books.google.co.id/books?id=tQU3CAAAQBAJ&pg=PA29&dq=masuknya+perancis+ke+kamboja&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwigjeC_tI_TAhXDro8KHR-oB2oQ6AEIGjAA#v=onepage&q=masuknya%20perancis%20ke%20kamboja&f=false
http://lailulyunani.blogspot.co.id/2015/10/sejarah-asia-tenggara-1-kerajaan.html?m=1
http://putralief-cyber.blogspot.co.id/2015/02/sengketa-internasional-thailand-dan.html?m=1
http://tara-wardhani-fisip14.web.unair.ac.id/artikel_detail-162122-SOH310%20(MBP%20Asia%20Tenggara)-Dinamika%20Negaranegara%20Indochina:%20Vietnam,%20Laos,%20dan%20Kamboja.html
http://www.academia.edu/9487136/Sejarah_dan_Perkembangan_Islam_di_Kamboja
http://www.binasyifa.com/089/43/27/sejarah-kamboja.htm
http://www.guntara.com/2011/02/negara-kamboja.html?m=1
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kamboja
Hall, D.G.E. 1988. Sejarah Asia Tenggara I, (Terj. I.P. Soewarsha). Surabaya : Usaha Nasional.
Rickles,M.C, dkk. 2013.  Sejarah Asia Tenggara dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer. Jakarta : Komunitas Bambu

Kalsel: Perjalanan ke Halong

BANJARMASIN
2016

Apa Itu Suku Dayak Deah?
Jangan selalu dikatakan dusun deah, dusun itu mungkin kita sudah tahu artinya yaitu desa. Yang kedua, jangan dikatakan itu orang dayak deah, yang nyata adalah suku dayak deah.

Dimana asal usul Suku Dayak Deah? Mengenai asal usul suku dayak deah, yang berasalnya dahulu di Banjarmasin. Di Banjarmasin, Landasan Ulin, itu terdapat ada tiang besar, disitulah asal usulnya suku dayak deah, bukan suku dayak deah yang ada di Gunung Riut, Halong, Kabupaten Balangan asal usulnya tetapi di Landasan Ulin, Banjarmasin.

Apa arti Suku Dayak Deah? Pada zaman Kolonial Belanda, saat memasuki pulau Borneo, menjajah dan menguasai daerah kekuasaannya. Sehingga pada saat penjajahan Kolonial Belanda memasuki daerah Landasan Ulin, mereka memerintah para penduduk sekitar disana yang menempati daerah tersebut. Penduduk yang menempati daerah tersebut adalah orang dayak (saat ini diberi nama Suku Dayak Deah). Penduduk disana tersebut tidak mau dipaksa, diperintah seenaknya saja oleh orang-orang Kolonial Belanda. Sehingga penduduk tersebut yang menempati daerah tersebut, dan akhirnya menetap di Gunung Riut, di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Jadi, Deah itu artinya adalah tidak mau diperintah oleh orang luar. Maka, Suku Dayak Deah itu adalah sekelompok orang atau suku dayak yang tidak mau diperintah oleh orang luar dan berpindah tempat agar tidak ada yang memerintah mereka. Orang Belanda menyebut mereka yaitu dayak deah atau dusun deah.

Masyarakat Suku Dayak Deah memiliki agama ethnic yang telah diamalkan sejak zaman nenek moyang mereka, yaitu agama Kaharingan, yang oleh pemerintah setempat di masukkan ke dalam golongan agama Hindu, sehingga agama ini kadang disebut juga sebagai agama Hindu Kaharingan. Saat ini sebagian besar masyarakat Suku Dayak Deah telah memeluk agama Kristen dan sebagian kecil lainnya yang sering berbaur dengan etnis Banjar telah memeluk agama Islam. Dibeberapa rumah masyarakat tersebut, dalam satu rumah ada 5 agama, kepercayaan masing-masing dari setiap orang. Sebagian warga masyarakat Suku Dayak Deah saat ini tetap memelihara adat dan budaya mereka yang selama turun temurun diwariskan oleh para pendahulu mereka. Didalam adat istiadat warga masyarakat Suku Dayak Deah, terdapat banyak aruh, tarian, dan permainan para leluhur, misalnya seperti Aruh Buntang, Tari Bagintur, dan permainan para leluhur yaitu Badadu.

Apa itu Aruh Buntang? Aruh Buntang disebut juga mambuntang atau aruh buntang mamali, merupakan salah satu upacara adat Suku Dayak Deah. Aruh Buntang terdiri atas tarian, nyanyian, dan musik yang dilaksanakan selama 3 sampai 14 hari. Tarian-tarian yang menjadi bagian dari upacara adat ini dianggap sakral oleh penduduk setempat. Aruh Buntang adalah upacara kematian yang dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Deah. Aruh (upacara) ini bertujuan untuk mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal menuju kehidupan berikutnya. Upacara ini juga merupakan simbol bakti dan rasa hormat dari mereka yang masih hidup kepada leluhur yang sudah meninggal. Ritual pemanggilan dewa merupakan fase awal dari pelaksanaan, pohon kelapa yang menjadi tempat semayam dikelilingi sesajen yang diberi mantra. Dan setelah itu, barulah pelaksanaan aruh boleh dilakukan.

Apa itu Tari Bagintur? Tari Bagintur atau Tari Gantar merupakan jenis tarian pergaulan antara muda mudi yang berasal dari Suku Dayak Deah. Tarian ini melambangkan kegembiraan dan juga keramah-tamahan Suku Dayak Deah dalam menyambut tamu yang datang berkunjung. Tamu-tamu bahkan diajak ikut menari bersama para penari. Tari ini biasanya dilakukan bergantian oleh anggota masyarakat Suku Dayak Deah. Dalam masyarakat bahwa dahulunya Tari Bagintur adalah merupakan tari sakral yang hanya boleh ditarikan saat para pahlawan pulang dari medan peperangan. Tari ini sebagai penyambut kedatangan mereka dan ditarikan oleh gadis-gadis remaja. Properti tongkat panjang adalah sebuah sumpit dan diberi hiasan kepala atau tengkorak musuh (digantungkan) yang telah dibunuh oleh para pahlawan, sedangkan bambu kecil merupakan peraga untuk mengimbangi gerak tari.
Badadu adalah permainan yang menebak berapa angka keluar pada dadu tersebut setelah proses dikocok (digolak), dalam Badadu ada dua peran yaitu Bandar dan Pemasang (para pemain). Permainan ini dilakukan secara turun-temurun pada saat Aruh (upacara) karena permainan ini adalah berlangsungnya proses jalannya aruh dan merupakan permainan para leluhur (hiburan), sehingga wajib dilakukan dan sudah menjadi kesepakatan mereka. Apabila permainan ini tidak dilakukan pada saat aruh maka akan berakibat yang tidak di inginkan (para leluhur akan marah) seperti marabahaya dan sakit. Masyarakat tersebut tidak takut dengan aturan yang ada pada hukum kalau takut maka kebudayaan yang ada pada mereka mulai lemah dan kepercayaanya mulai kurang. Karena Badadu ini adalah hiburan para leluhur dahlu.